Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Isnin, 23 Ogos 2010

Meraih Darjat Ihsan

sumber: http://muslim.or.id/aqidah/meraih-derajat-ihsan.html


Derajat ihsan merupakan tingkatan tertinggi keislaman seorang hamba. Tidak semua orang bisa meraih derajat yang mulia ini. Hanya hamba-hamba Allah yang khusus saja yang bisa mencapai derajat mulia ini. Oleh karena itu, merupakan keutamaan tersendiri bagi hamba yang mampu meraihnya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk di dalamnya.

Antara Islam, Iman, dan Ihsan

Suatu ketika Malaikat Jibril ‘alaihis sallam datang di majelis Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam rupa manusia, kemudian menanyakan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam beberapa pertanyaan. Di antara pertanyaannya adalah tentang makna islam, iman, dan ihsan. Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawabnya dan dibenarkan oleh Jibril. Berdasarkan hadist ini [1], para ulama membagi agama Islam menjadi tiga tingkatan yaitu islam, iman, dan ihsan.

Tingkatan agama yang paling tinggi adalah ihsan, kemudian iman, dan paling rendah adalah islam. Kaum muhsinin (orang-orang yang memiliki sifat ihsan) merupakan hamba pilihan dari hamba-hamba Allah yang shalih. Oleh sebab itu, sebagian ulama menjelaskan jika ihsan sudah terwujud berarti iman dan islam juga sudah terwujud pada diri seorang hamba. Jadi, setiap muhsin pasti mukmin dan setiap mukmin pasti muslim. Namun tidak berlaku sebaliknya. Tidak setiap muslim itu mukmin dan tidak setiap mukmin itu mencapai derajat muhsin. Pelaku ihsan adalah hamba pilihan dari hamba-hamba Allah yang shalih. Oleh karena itu, di dalam al Quran disebutkan hak-hak mereka secara khusus tanpa menyebutkan hak yang lainnya.[2]

Makna Ihsan

Kata ihsan (berbuat baik) merupakan kebalikan dari kata al isaa-ah (berbuat buruk), yakni perbuatan seseorang untuk melakukan perbuatan yang ma’ruf dan menahan diri dari dosa. Dia mendermakan kebaikan kepada hamba Allah yang lainnya baik melalui hartanya, kehormatannya, ilmunya, maupun raganya.

Adapun yang dimaksud ihsan bila dinisbatkan kepada peribadatan kepada Allah adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasululluah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadist Jibril :

قَالَ فَأَخْبِرْنِى عَنِ الإِحْسَانِ. قَالَ « أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ »

“’Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (H.R. Muslim 102).[3]

Dalam hadits Jibril, tingkatan Islam yang ketiga ini memiliki satu rukun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan mengenai ihsan yaitu ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak mampu melihat-Nya, Allah akan melihatmu.’ Itulah pengertian ihsan dan rukunnya.

Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di rahimahullah menjelaskan bahwa ihsan mencakup dua macam, yakni ihsan dalam beribadah kepada Allah dan ihsan dalam menunaikan hak sesama makhluk. Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam hak makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Ihsan kepada makhluk ini terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah. Yang hukumnya wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah. Sedangkan yang sunnah misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar kewajiban seseorang. Salah satu bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada kita, baik dengan ucapan atau perbuatannya.[4]

Tingkatan Ihsan

Syaikh Sholeh Alu Syaikh hafidzahullah menmberikan penjelasan bahwa inti yang dimaksud dengan ihsan adalah membaguskan amal. Batasan minimal seseorang dapat dikatakan telah melakukan ihsan di dalam beribadah kepada Allah yaitu apabila di dalam memperbagus amalannya niatnya ikhlas yaitu semata-mata mengharap pahala-Nya dan sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah kadar ihsan yang wajib yang harus ditunaikan oleh setiap muslim yang akan membuat keislamannya menjadi sah. Adapun kadar ihsan yang mustahab (dianjurkan) di dalam beribadah kepada Allah memiliki dua tingkatan, yaitu :

Pertama, tingkatan muroqobah.

Yakni seseorang yang beramal senantiasa merasa diawasi dan diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktivitasnya. Ini berdasarkan sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ (jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu).Tingkatan muroqobah yaitu apabila seseorang tidak mampu memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin bahwa Allah melihatnya. Tingkatan inilah yang dimiliki oleh kebanyakan orang. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana Allah firmankan dalam surat Yunus,

وَمَاتَكُونُ فِي شَأْنٍ وَمَاتَتْلُوا مِنْهُ مِنْ قُرْءَانٍ وَلاَتَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلاَّ كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ …{61}

“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya…” (QS. Yunus: 61)

Kedua, tingkatan musyahadah

Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, yaitu seseorang senantiasa memeperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut. Inilah realisasi dari sabda Nabi أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاه (‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya).Pada tingkatan ini seseorang beribadah kepada Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan bahwa yang dimaksudkan di sini bukanlah melihat dzat Allah, namun melihat sifat-sifat-Nya, tidak sebagaimana keyakinan orang-orang sufi. Yang mereka sangka dengan tingkatan musyahadahadalah melihat dzat Allah. Ini jelas merupakan kebatilan. Yang dimaksud adalah memperhatikan sifat-sifat Allah, yakni dengan memperhatikan pengaruh sifat-sifat Allah bagi makhluk. Apabila seorang hamba sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi dalam derajat ihsan.[5]

Keutamaan Ihsan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ {128}

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.” (QS. An Nahl: 128).

Dalam ayat ini Allah menunjukkan keutamaan seorang muhsin yang bertakwa kepada Allah, yang tidak meninggalkan kewajibannya dan menjauhi segala yang haram. Kebersamaan Allah dalam ayat ini adalah kebersamaan yang khusus. Kebersamaan khusus yakni dalam bentuk pertolongan, dukungan, dan petunjuk jalan yang lurus sebagai tambahan dari kebersamaan Allah yang umum (yakni pengilmuan Allah). Makna dari firman Allah وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ ( dan orang-orang yang berbuat ihsan) adalah yang mentaati Rabbnya, yakni dengan mengikhlaskan niat dan tujuan dalam beribadah serta melaksankanan syariat Allah dengan petunjuk yang telah dijelasakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.[6]

Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَ تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ {195}

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat ihsan.” (Al Baqarah:195)

Ketika menafsirkan ayat ini Syaikh As Sa’di menjelaskan bahwa ihsan pada ayat ini mecakup seluruh jenis ihsan. Hal ini karena tidak ada pembatasan pada ayat ini. Maka termasuk di dalamnya ihsan dengan harta, kemuliaan, pertolongan, perbuatan memrintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mengajarkan ilmu yang bermanfaat, dan perbuatan ihasan lain yng diperintahkan oleh Allah. Termasuk di dalamnya juga adalah ihsan dalam beribadah kepada Allah. Hal ini sebagaimnan sabda Nabi ‘Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.. Barangsiapa yang memiliki sifat ihsan tersebut, maka dia tergolong orang-orang yang Allah terangkan dalam firman-Nya لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ “Bagi orang-orang yang berbuat ihsan, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (melihat wajah Allah ta’ala)” (QS Yunus: 26) Allah akan bersamanya, memberinya petunjuk, membimbingnya, serta menolongnya dalam setiap urusannya.[7].

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَإِن كُنتُنَّ تُرِدْنَ اللهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ اْلأَخِرَةَ فَإِنَّ اللهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا {29}

“Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat ihsan (kebaikan) diantaramu pahala yang besar.” (QS. Al Ahzab: 29)

Penerapan Makna Ihsan dalam Kehidupan

Pembaca yang dirahmati Allah, sikap ihsan ini harus berusaha kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita berbuat amalan kataatan, maka perbuatan itu selalu kita niatkan untuk Allah. Sebaliknya jika terbesit niat di hati kita untuk berbuat keburukan, maka kita tidak mengerjakannya karena sikap ihsan yang kita miliki. Seseorang yang sikap ihsannya kuat akan rajin berbuat kebaikan karena dia berusaha membuat senang Allah yang selalu melihatnya. Sebaliknya dia malu berbuat kejahatan karena dia selalu yakin Allah melihat perbuatannya. Ihsan adalah puncak prestasi dalam ibadah, muamalah, dan akhlak seorang hamba. Oleh karena itu, semua orang yang menyadari akan hal ini tentu akan berusaha dengan seluruh potensi diri yang dimilikinya agar sampai pada tingkat tersebut. Siapa pun kita, apa pun profesi kita, di mata Allah tidak ada yang lebih mulia dari yang lain, kecuali mereka yang telah naik ke tingkat ihsan dalam seluruh amalannya. Kalau kita cermati pembahasan di atas, untuk meraih derajat ihsan, sangat erat kaitannya dengan benarnya pengilmuan seseorang tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah.

Semoga kita semua dapat mewujudkan ihsan dalam diri kita, sebelum Allah mengambil ruh ini dari jasad kita. Semoga bermanfaat. Allahul musta’an..

Penulis: Abu ‘Athifah Adika Mianoki

Artikel www.muslim.or.id

[1]. Hadist yang dimaksud adalah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim (102). Terdapat pula dalam Hadist Arba’in No 2.

[2]. Lihat Husuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul 140-141, Syaikh Sholeh al Fauzan.

[3]. Lihat Syarh Tsalaatsatil Ushuul 95-96, Syaikh Muhammad bin Sholeh al ‘Utsaimin.

[4]. Lihat Bahjatu Qulubil Abraar 168-169, Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di.

[5]. Lihat Syarh Arba’in an Nawawiyah penjelasan hadist ke 2, Syaikh Sholeh Alu Syaikh.

[6]. Husuulul Ma’muul 41.

[7]. Taisiirul Kariimir Rahmaan tafsir surat al Baqarah 195, Syaikh ‘Abdurrahman as Sa’di.

Rahmat di Sebalik Ujian

Rahmat Sebalik Ujian
www.iLuvislam.com
Oleh: Zulyunus
Editor: Nazarudin Yaacob



Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Quran kepada hamba-Nya, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kita, siapa di antara kita yang lebih baik amalnya. Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Allah telah memuliakan manusia sebagai sebaik-baik ciptaan. Dia menghantar Rasul-Nya untuk mengeluarkan manusia daripada gelap gelita kepada cahaya terang benderang, menuju Tuhan. Maha Suci Allah yang menciptakan segala sesuatu dengan tujuan dan bersebab.
Telah bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi, dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Selawat dan salam buat Rasul junjungan, yang telah dihantar oleh Allah kepada Umat Manusia sebagai satu anugerah, membawa Rahmah ke seluruh pelosok alam. Demi Allah, sungguh tidak akan sesat orang yang berpegang pada tali agama Allah, menggigit Al-Quran dan Sunnah dengan gigi gerahamnya dan dia sama sekali tidak pernah mencari selainnya sebagai sesuatu yang lebih agung dan lebih utama.

Hidup ini adalah satu medan ujian. Dunia ini hanyalah sebuah persinggahan dan bukan destinasi. Sebuah perhentian dan bukan pengakhiran. Tanpa ujian, manusia takkan pernah terhantuk dan tengadah, bahkan akan terus lalai dengan dunianya sendiri yang penuh dengan angan-angan, hiasan syaitan. Ujian adalah satu bentuk interaksi antara Allah dan kita. Ujian membuatkan kita mendongak ke langit, menadah tangan memohon perhatian Tuhan. Kita selalu lupa, namun Allah tak pernah sekali-kali lalai daripada hamba-Nya.

Di hujung ujian ada Rahmat yang disediakan buat orang-orang yang berjaya, dan penyesalan buat orang-orang yang gagal. Jika kita tak pernah memahami atau cuba untuk mengerti hakikat ini, maka kita akan terus terkandas dalam ujian. Ujian demi ujian, keluhan demi keluhan, hidup terus berjalan dengan tertekan, tak pernah merasakan kenikmatan di sebalik ujian. Maka kita sangat perlu memahaminya, bahawa Rahmat Allah menanti di sebalik sesebuah ujian. Ujian itu takkan pernah hilang daripada papan cerita kehidupan ini.

Ujian membawa kita semakin dekat dengan pemberi ujian, mungkin juga sebaliknya. Ujian adalah lambang kasih sayang pencipta. Itu tanda Allah sentiasa mengambil berat dan tak pernah meninggalkan kita sendirian, kita bagaimana?


Ujian dan Iman

Firman Allah dalam surah Al-‘Ankabuut Ayat yang ke-2, ertinya:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”


Ayat ini menggambarkan kepada kita betapa iman itu berkait rapat dengan ujian. Kenikmatan iman itu dikecapi setelah kita berjaya melalui beberapa siri ujian yang telah ditetapkan oleh Allah. Semakin hebat ujian, semakin manis iman yang bakal kita rasai di penghujungnya, bagi orang-orang yang berjaya melaluinya. Jika kita gagal menempuhinya dengan baik, kita akan terus diberi peluang dan didatangkan lagi dengan ujian-ujian yang lain. Kita akan semakin tersasar jika kita terus menerus gagal dan tak belajar menjadi lebih baik. Allah itu begitu Maha Pengasih dan masih memberi ruang kepada kita belajar daripada ujian.

Firman Allah lagi dalam surah Al-‘Ankabuut Ayat yang ke-3, ertinya:

“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”


Iman itu memerlukan pembuktian. Seberat-berat ujian yang pernah kita alami, tak mungkin seberat Bilal Bin Rabah R.A. tatkala menampung batu besar di terik panas matahari padang pasir. Khabbab Bin ‘Arath R.A. begitu terseksa saat besi panas yang membara di atas kepalanya membakar dan menghanguskannya. Namun, mereka telah membuktikan keimanan mereka dan Allah mengetahui orang-orang yang benar dan orang-orang yang dusta. Di hujung penderitaan yang dialami generasi awal Islam itu, mereka mengakhiri kehidupan menuju alam abadi dengan penuh ketenangan.

Ujian itu adalah tempaan Allah buat orang-orang beriman. Pedang yang hebat takkan terbentuk jika tidak diketuk, dipanaskan dan ditempa dengan baik. Maka kita beruntung kerana Allah akan mengangkat darjat kita dengan ujian yang diturunkannya. Allah ingin memberikan berita gembira kepada kita jika kita bersabar atas ujian yang kita hadapi.

Lihatlah Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah Ayat 155-156, ertinya:

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Kita milik Allah dan kepada-Nya kita dikembalikan)””


Ujian Pelbagai Bentuk

Tahap ujian yang ditimpakan oleh Allah kepada manusia itu berbeza-beza, berdasarkan kepada keimanannya. Bentuk ujian itu juga pelbagai. Ada orang diuji dengan wanita, yang lainnya dengan harta, anak-anak, kesusahan, kawan-kawan dan sebagainya. Bagi para pelajar, peperiksaan itu juga satu bentuk ujian. Hakikatnya, kehidupan ini sendiri keseluruhannya adalah medan ujian, akhirat nanti medan ganjaran.

Biar apa juga bentuk ujian yang kita alami, Rahmat Allah tetap akan mengiringi jika kita menghadapinya dengan penuh sabar dan pengharapan kepada Allah. Allah sangat-sangat suka jika hamba-Nya mengadu kepada-Nya, menitiskan air mata di balik tirai malam dan mengakui kelemahannya. Tidak dapat tidak, ujian itu harus dilalui dengan penuh pengharapan kepada pertolongan Allah, kebergantungan yang sepenuhnya kepada pemilik diri kita. Jika tidak, kita akan buntu mencari jalan, kerana hanya Dia penunjuk jalan.

Firman Allah dalam Surah Al-Baqarah Ayat 153, ertinya:

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan Solat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”


Ayat ini begitu dalam maknanya bagi orang-orang yang ingin memahami, dan begitu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. Sabar dan Solat itu kunci dalam memohon pertolongan Allah. Sampai bila kita harus bersabar? Sampai Allah memberikan pertolongan. Selagi kita diuji, selagi itulah kita bersabar.

Rasulullah adalah orang yang paling hebat kesabarannya bahkan paling besar ujiannya. Dan baginda jugalah yang paling mulia di sisi Allah di kalangan seluruh Umat manusia. Maka ujian itu sememangnya menuntut kesabaran, dan kesabaran akan mengangkat darjat seorang manusia.

“Dari Abu Hurairah R.A., ada seorang lelaki berkata kepada Nabi S.A.W., “Berilah aku wasiat.” Rasulullah S.A.W. bersabda, “Jangan marah!” Beliau mengulang-ulang beberapa kali ucapan, “Jangan marah!” (HR Bukhari)

Kesimpulannya, ujian itu pasti. Pergantungan kepada Allahlah yang akan membuatkan kita tenang menghadapinya. Mungkin kita sudah puas membaca, sekarang mari kita sama-sama merasa. Wallahua’lam.


Rabu, 18 Ogos 2010

Sadaqah, Infaq, Charity & Goodness~


RAMADHAN DAY 08

It's Ramadhan, and you have all those extra money (or moolah, as I'd say it) in your wallet, or money box or in the bank... so what do you do with it? Do you say "Extra money is all miiiine! I can now purchase a PSP!" or do you say "I think I'll give this extra money to the orphanage nearby"

If you answer the latter; congratulations, you are on the right path to be a righteous and generous Muslim! ♥ ♥

“Allah will deprive usury of all blessing, but will give increase for deeds of charity: for He loves not creatures ungrateful and sinner.” ( 2: 276)

"Charity does not in any way decrease the wealth and the servant who forgives, Allah adds to his respect; and the one who shows humility, Allah elevates him in the estimation (of the people).” (Muslim)

In Islam, sadaqah/infaq/charity is HIGHLY noble and is always emphasized on, especially if you are granted with more wealth and more moolah from others. It helps the needy, the poor, the orphans, etc AND it increases your level of deen!
So to speak, if you are given much wealth, you are lucky because you are able to help the less fortunate :)

Surely Allah loves who gives part of his/her wealth to others! ♥


Giving sadaqah in Ramadhan is a BIG advantage. Prophet Muhammad s.a.w is EXTREMELY generous when it comes to giving sadaqa in Ramadhan. Imam Bukhari narrated that the Prophet was like "more generous than the wind that brings rain." See how beautiful is that? ♥

So use this golden opportunity and give, give, give! In fact, giving sadaqah is more blessed (and more rewards given) than in Syawal/Aidilfitri, so start practicing being generous! :) And remember, sadaqah must be done ALL THE TIME, but Ramadhan is special because you are encouraged to give more! :)

And also remember that sadaqah is BEST when done as humble as possible. Avoid riak (show-off attitude) and door-sized cheques. And sadaqah/infaq is not only in the form of money, but also in the form of food, clothes or other basic necessities.

Some suggestions that might be helpful- Give sadaqah to:
- Your parents and grandparents! :D ♥
- Your siblings and little cousins
- Orphans
- The needy such as old folks, the poor, etc
- The Palestinians, or others in distress


“The best charity is that given in Ramadhan.”[At-Tirmithi]

Let's all be better Muslims, amin. ♥

Brotherhood Arts~

Selasa, 17 Ogos 2010

Memberi............~




Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam:

اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة

“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.” (HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)

Isnin, 16 Ogos 2010

Tuntutan Sunnah dalam bulan ramadhan

Oleh: Ustaz Fadlan Othman


Tuntutan al-Sunnah dalam bulan Ramadhan


Setelah melepasi bulan Sya’ban, tibalah masanya untuk seseorang muslim melaksanakan satu ibadah mulia yang merupakan salah satu daripada rukun-rukun Islam yang lima. Di dalam perbincangan mengenai tuntutan sunnah Rasulullah s.a.w. di dalam bulan mulia ini, penekanan akan dibuat berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan hadith-hadith yang sahih sahaja serta kata-kata ulamak yang muktabar, seperti berikut:

1-
Apabila melihat anak bulan Ramadhan bacakan:
اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
[1]
Maksudnya: Ya Allah, munculkanlah bulan sabit ini ke atas kami dengan keberkatan, keimanan, keselamatan dan Islam. Tuhanku dan tuhanmu adalah Allah.

2-
Dirikan Solat sunat al-Tarawih dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
[2]
Maksudnya: Siapa yang bangun Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan akan diampunkan dosanya yang terdahulu.

- Jumlah bilangan solat sunat al-Tarawih yang terbaik ialah 11 raka‘at mengikut bilangan solat Nabi s.a.w.:
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ فَقَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ أَنْ تُوتِرَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامَانِ وَلَا يَنَامُ قَلْبِي
[3]
Maksudnya: Daripada Abu Salamah bin Abdul Rahman bahawa beliau telah bertanya Aisyah r.a. ‘Bagaimanakah solat Rasulullah s.a.w. dalam bulan Ramadhan?’ Beliau menjawab, ‘Baginda tidak pernah menambah dalam bulan Ramadhan dan bulan lain melebihi sebelas rakaat. Baginda solat empat rakaat, janaganlah engkau tanya kecantikannya dan panjangnya. Kemudian Baginda solat empat rakaat, janganlah engkau tanya kecantikannya dan panjangnya. Kemudian Baginda solat tiga rakaat.’ Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah, adakah engkau tidur sebelum berwitir?’ Jawab Baginda, “Wahai Aisyah, sesungguhnya mataku tidur tetapi hatiku tidak tidur.”

- Bilangan ini juga telah diarahkan oleh Umar r.a. semasa beliau melantik imam-imam untuk solat Tarawih di zamannya seperti yang diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang sahih daripada alSaib bin Yazid katanya:
أَمَرَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَتَمِيمًا الدَّارِيَّ أَنْ يَقُومَا لِلنَّاسِ بِإِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً ...
[4]
Umar telah mengarahkan Ubai bin Ka’b dan Tamim alDari supaya mengimamkan orang ramai sebanyak 11 rakaat...

Di sana ada juga riwayat yang mengatakan bahawa Umar mengumpulkan orang ramai berimamkan Ubai bin Ka’b dan mengarahkannya supaya solat 20 atau 21 rakaat. Akan tetapi riwayat itu adalah lemah dan tidak sabit, sepertimana diterangkan oleh al-Syaikh al-Albani rahimahullah
[5].

- Laksanakanlah solat sunat al-Tarawih bersama imam sehingga selesai:
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ
[6]
Maksudnya: Sesungguhnya siapa yang bangun bersama imam sehingga imam itu selesai, Allah menulis untuknya bangun satu malam.

Sekiranya berimamkan imam yang berpendapat bilangan solat Tarawih ialah 23 rakaat, adalah digalakkan supaya menyelesaikan solat bersama imam untuk mendapat ganjaran bangun seluruh malam. Pun begitu jika hendak berhenti setengah jalan, perlulah diingatkan bahawa solat Tarawih adalah sunat hukumnya. Dalam erti kata lain perkara ini adalah dibenarkan.

3-
Pastikan berniat untuk melaksanakan puasa Ramadhan pada waktu malam:
مَنْ لَمْ يُبَيِّتْ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ
[7]
Maksudnya: Siapa yang tidak meniatkan puasa pada waktu malam sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.

- Niat tempatnya dalam hati iaitu dengan berdetiknya dalam hati bahawa seseorang itu ingin melakukan sesuatu amalan. Al-Imam al-Nawawi telah berkata:
“Dan niat itu ialah tujuan (al-Qasd). Justeru orang yang sembahyang menghadirkan dalam fikirannya zat solat dan apa-apa yang wajib daripada sifat-sifat solat seperti zuhur, fardhu dan sebagainya. Kemudian dia menuju kenyataan-kenyataan ini dengan tujuan yang seiringan dengan takbir yang pertama. Tidak disyaratkan mengiringkan niat selepas takbir. Akan tetapi disyaratkan tidak mendatangkan perkara yang membatalkannya. Jika dia berniat di pertengahan solat untuk keluar darinya, batal solatnya.”
[8]

- Al-Imam al-Suyuti juga telah berkata:
“Daripada bid‘ah (yang sayyiah) itu adalah was-was dalam niat solat. Itu bukan daripada perbuatan Nabi s.a.w. dan para sahabat Baginda. Mereka tidak pernah melafazkan sedikit pun niat solat melainkan (terus) takbir. ”
[9]

4-
Usahakan untuk bersahur seketika sebelum masuknya waktu fajar:
تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً
[10]
Maksudnya: Bersahurlah kerana dalam sahur itu ada keberkatan.

- Bersahur adalah satu amalan yang amat-amat digalakkan walaupun dengan seteguk air:
السَّحُورُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ
[11]
Maksudnya: Sahur ialah santapan berkat, janganlah kamu semua tinggalkannya walaupun dengan meneguk seteguk air. Sesungguhnya Allah dan malaikatNya berselawat ke atas orang yang bersahur.

- Sekiranya masuk waktu fajar, tidak dibenarkan makan dan minum. Firman Allah Ta‘ala (al-Baqarah 2:187):

Maksudnya: Dan makanlah serta minumlah sehingga nyata kepada kamu benang putih (cahaya siang) dari benang hitam (kegelapan malam), iaitu waktu fajar.

- Akan tetapi terdapat kelonggaran untuk makan dan minum walaupun azan berkumandang bagi mereka yang memegang minuman atau makanan:
إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ
[12]
Maksudnya: Sekiranya seorang daripada kamu mendengar azan sedang bekas air di tangannya, janganlah dia letakkan sehingga dia selesai minum apa yang perlu.

- Sahur sewajarnya dilewatkan sehingga ke penghujung waktu iaitu seketika sebelum masuknya waktu fajar:
ثلاث من أخلاق النبوة: تعجيل الإفطار وتأخير السحور ووضع اليمين على الشمال في الصلاة
[13]
Maksudnya: Tiga perkara merupakan akhlak kenabian; mencepatkan buka puasa, melewatkan sahur dan meletak tangan kanan atas tangan kiri dalam solat.

- Imsak dikira oleh para ulamak sebagai satu amalan yang tidak berpaksikan dalil yang sahih. Ibnu Hajar telah berkata:
“Di antara bid‘ah-bid‘ah yang munkar ialah apa yang berlaku di zaman ini iaitu melaungkan azan kedua sebelum waktu subuh dengan anggaran satu pertiga jam pada bulan Ramadhan, di samping memadamkan pelita-pelita yang dijadikan tanda pengharaman makan dan minum bagi mereka yang ingin berpuasa. Perbuatan ini dianggap satu usaha berjaga-jaga dalam ibadat. Perkara ini tidak diketahui kecuali oleh segelintir manusia. Perbuatan ini juga telah menarik mereka untuk tidak melaungkan azan kecuali selepas terbenamnya matahari seketika untuk memastikan waktu –pada sangkaan mereka-. Dengan ini mereka telah melewatkan berbuka dan mencepatkan bersahur dan mereka telah menyalahi al-Sunnah. Disebabkan inilah kebaikan menjadi sedikit di kalangan mereka dan keburukan menjadi banyak di antara mereka. Allah jualah yang dipohon pertolongan.”
[14]

5-
Berpuasalah dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
[15]
Maksudnya: Siapa puasa Ramadhan dengan keimanan dan pengharapan, akan diampunkan dosanya yang terdahulu.

6-
Tegahlah diri daripada makan, minum dan lebih penting lagi kata-kata keji dan amalan-amalan keji:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
[16]
Maksudnya: Siapa yang tidak meninggalkan kata-kata keji dan amalam keji, Allah tidak mempunyai hajat dalam usahanya meninggalkan makann dan minumannya.

- Orang yang terlupa lalu makan dan minum semasa dia menjalankan ibadah puasa, perbuatannya ini tidak membatalkan puasanya. Akan tetapi sekiranya dia teringat semasa sedang makan atau minum, hendaklah dia segera berhenti. Orang yang melihatnya makan dan minum juga hendaklah menegurnya kerana memberi nasihat dalam agama adalah wajib. Sabda Rasulullah s.a.w.:
مَنْ نَسِيَ وَهُوَ صَائِمٌ فَأَكَلَ أَوْ شَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ
[17]
Maksudnya: Sesiapa yang terlupa semasa dia berpuasa lalu dia makan atau minum, hendaklah dia sempurna (atau teruskan) puasanya kerana sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.

- Terdapat beberapa orang yang dikecualikan daripada berpuasa. Mereka dapat dibahagikan kepada dua bahagian seperti berikut:
a- Dikecualikan daripada berpuasa tetapi mestilah menggantinya apabila tiada halangan.
· Orang sakit yang boleh sembuh,
· Pengembara.

Firman Allah Ta‘ala (al-Baqarah 2:184):

Maksudnya: Maka sesiapa di antara kamu yang sakit, atau dalam musafir, (bolehlah ia berbuka), kemudian wajiblah ia berpuasa sebanyak (hari yang dibuka) itu pada hari-hari yang lain.

b- Dikecualikan daripada berpuasa dan tidak perlu menggantinya apabila tiada halangan, akan tetapi perlu membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkan.
· Lelaki tua yang tidak mampu berpuasa,
· Wanita tua yang tidak mampu berpuasa.
· Orang sakit yang tidak boleh sembuh
· Wanita yang hamil
· Wanita yang menyusukan anak

Firman Allah Ta‘ala (al-Baqarah 2:184):

Maksudnya: Dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin

Terdapat riwayat daripada Ibnu Abbas yang menerangkan pendapat ini seperti berikut:
Riwayat pertama:
عَنْ عَطَاءٍ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقْرَأُ وَعَلَى الَّذِينَ يُطَوَّقُونَهُ فَلَا يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَيْسَتْ بِمَنْسُوخَةٍ هُوَ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْمَرْأَةُ الْكَبِيرَةُ لَا يَسْتَطِيعَانِ أَنْ يَصُومَا فَيُطْعِمَانِ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا
[18]
Maksudnya: Daripada ‘Ata’ bahawa dia mendengar Ibnu ‘Abbas membaca { Dan wajib atas orang-orang yang diberatkan puasa (kerana tua dan sebagainya)} maka mereka tidak mampu berpuasa, {membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin}. Ibnu ‘Abbas berkata ‘Ayat ini tidak mansukh. Mereka ialah orang tua lelaki dan wanita yang tidak mampu berpuasa maka mereka memberi makan bagi setiap hari seorang miskin.’

Riwayat kedua:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ قَالَ كَانَتْ رُخْصَةً لِلشَّيْخِ الْكَبِيرِ وَالْمَرْأَةِ الْكَبِيرَةِ وَهُمَا يُطِيقَانِ الصِّيَامَ أَنْ يُفْطِرَا وَيُطْعِمَا مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا وَالْحُبْلَى وَالْمُرْضِعُ إِذَا خَافَتَا قَالَ أَبُو دَاوُد يَعْنِي عَلَى أَوْلَادِهِمَا أَفْطَرَتَا وَأَطْعَمَتَا
[19]
Maksudnya: Daripada Ibnu Abbas {Dan wajib atas orang-orang yang tidak terdaya berpuasa (kerana tua dan sebagainya) membayar fidyah iaitu memberi makan orang miskin} katanya ‘Dahulu ini adalah kelonggaran bagi orang tua lelaki dan wanita yang mana kedua-duanya berdaya berpuasa untuk memberi makan setiap hari seorang miskin, juga wanita hamil dan menyusu jika kedua-duanya takut. Berkata Abu Daud iaitu takut atas anak mereka, mereka buka dan memberi makan.

7-
Mempergandakan amalan-amalan kebajikan di bulan ini:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
[20]
Maksudnya: Apabila masuknya malam pertama daripada bulan Ramadhan para syaitan dan pengganas jin akan dirantai, pintu-pintu neraka akan ditutup, tiada satu pun akan dibuka, pintu-pintu syurga dibuka, tiada satu pun akan ditutup. Akan ada seseorang yang akan melaungkan, ‘Wahai orang yang inginkan kebaikan, datanglah. Wahai orang yang inginkan kekejian, berhentilah. Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan daripada neraka pada setiap malam.

- Memperbanyakkan bacaan al-Quran al-Karim dan juga mendengar bacaan al-Quran al-Karim. Firman Allah Ta’ala (alBaarah 2:185):

Maksudnya: (Masa Yang Diwajibkan kamu berpuasa itu ialah) bulan Ramadan Yang padanya diturunkan Al-Quran, menjadi petunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan Yang menjelaskan petunjuk dan (menjelaskan) perbezaan antara Yang benar Dengan Yang salah. oleh itu, sesiapa dari antara kamu Yang menyaksikan anak bulan Ramadan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia berpuasa bulan itu.

Ayat ini jelas menunjukkan bahawa sebab pemilihan bulan Ramadhan sebagai bulan puasa ialah kerana al-Quran diturunkan dalam bulan ini. Jadi wajarlah dipertingkatkan bacaan al-Quran dan diperbanyakkan mendengar bacaan al-Quran serta tinggalkanlah lagu-lagu.

- Menyediakan makanan untuk orang berbuka puasa.
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
[21]
Maksudnya: Siapa yang menyediakan makanan berbuka untuk orang puasa, dia akan dapat seperti pahalanya tanpa dikurangkan pahalanya sedikitpun.

- Membuat Umrah di bulan ini, pahalanya ibarat membuat haji:
فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً
[22]
Maksudnya: Sekiranya datang Ramadhan hendaklah kamu berumrah kerana sesungguhnya umrah dalam Ramadhan menyaingi haji.

8-
Di bulan ini, Allah Ta‘ala membuka peluang seluas-luasnya untuk hamba-hambaNya menghentikan amalan-amalan buruk dan keji:
إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ
[23]
Maksudnya: Apabila masuknya malam pertama daripada bulan Ramadhan para syaitan dan pengganas jin akan dirantai, pintu-pintu neraka akan ditutup, tiada satu pun akan dibuka, pintu-pintu syurga dibuka, tiada satu pun akan ditutup. Akan ada seseorang yang akan melaungkan, ‘Wahai orang yang inginkan kebaikan, datanglah. Wahai orang yang inginkan kekejian, berhentilah. Allah mempunyai orang-orang yang dibebaskan daripada neraka pada setiap malam.

9-
Memperbanyakkan doa di setiap masa semasa puasa:
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْصَائمِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ
[24]
Maksudnya: Tiga doa yang mustajab tanpa syak. Doa orang berpuasa, doa orang dizalimi dan doa orang mengembara.

10-
Apabila tenggelamnya matahari, berbukalah dengan segera:
لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
[25]
Maksudnya: Manusia akan sentiasa berada dalam kebaikan selagi mana mereka segera berbuka puasa.

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا وَغَرَبَتْ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ.
[26]
Maksudnya: Sekiranya malam datang dari sini, siang pergi dari sini dan terbenamnya matahari maka berbukalah orang berpuasa.

11-
Semasa berbuka, mulakan dengan rutob (kalau tiada) tamar (kalau tiada) dengan air:
…أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ
[27]
Maksudnya: Anas berkata ‘Kebiasaannya dahulu Rasulullah s.a.w. berbuka dengan kurma muda sebelum solat. Jika tiada kurma muda maka dengan kurma tua. Jika tiada maka dengan beberapa teguk air.

12-
Selepas berbuka bacakan:
…حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي ابْنَ سَالِمٍ الْمُقَفَّعَ قَالَ رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى الْكَفِّ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ
[28]
Maksudnya: Marwan bin Salim telah berkata ‘Aku telah melihat Ibnu Umar menggenggamjanggutnya dan memotong apa yang melebihi tapak tangan. Beliau berkata ‘Kebiasaannya dahulu Rasulullah s.a.w. apabila berbuka Baginda akan berkata “Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat. Dan telah tetap pahala dengan izin Allah.”

13-
Apabila sampainya sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, tingkatkan kegigihan beribadat, pastikan malam al-Qadr tidak terlepas:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ
[29]
Maksudnya: Daripada ‘Aisyah r.a. katanya ‘Kebiasaannya dahulu Nabi s.a.w. apabila masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan, Baginda akan bersungguh-sungguh, menghidupkan malamnya dan mengejutkan keluarganya.’

14-
Sekiranya berkesempatan beri‘tikaflah di salah satu dari 3 masjid iaitu al-Masjid al-Haram, al-Masjid al-Nabawi dan al-Masjid al-Aqsa (menurut satu pendapat):
لا اعتكاف إلا في المساجد الثلاثة
[30]
Maksudnya: Tiada iktikaf kecuali di tiga masjid sahaja.

- Pendapat kedua pula ialah Masjid Jami‘. Bagi mereka yang mengambil pendapat pertama, masih boleh juga turut serta beribadat dengan mereka yang beri‘tikaf di masjid-masjid Jami‘:
الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ مَا لَمْ يُحْدِثْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ لَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا دَامَتْ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ لَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْقَلِبَ إِلَى أَهْلِهِ إِلَّا الصَّلَاةُ
[31]
Maksudnya: Para malaikat berdoa ke atas seseorang dari kamu selagimana dia berada di dalam tempat solatnya selagimana dia tidak batal wudhuk ‘Ya Allah ampunkanlah dia, Ya Allah rahmatilah dia.’ Seorang daripada kamu dikira berada dalam solatnya selagimana solat itu menghalangnya, tiada yang melarangnya balik kepada keluarganya kecuali solat.

15-
Bersungguh-sungguh pada malam al-Qadar dengan penuh keimanan dan pengharapan:
مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
[32]
Maksudnya: Siapa bangun malam keagungan dengan keimanan dan pengharapan akan diampunkan untuknya dosanya yang terdahulu.

- Di malam al-Qadr bacalah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
[33]
Maksudnya: Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, sukakan kemaafan, maka maafkanlah aku.

- Tanda malam al-Qadar:
عَنْ زِرٍّ قَالَ سَمِعْتُ أُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ يَقُولُ وَقِيلَ لَهُ إِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ يَقُولُ مَنْ قَامَ السَّنَةَ أَصَابَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَقَالَ أُبَيٌّ وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا
[34]
Maksudnya: Daripada Zirr katanya ‘Aku mendengar Ubay bin Ka‘b berkata apabila dikatakan kepadanya bahawa Abdullah bin Mas‘ud berkata ‘Siapa bangun sepanjang tahun dia akan dapat malam keagungan.’ Ubay berkata ‘Demi Allah yang tiada tuhan yang hak selainnya, malam itu di dalam Ramadhan.’ Beliau bersumpah tanpa pengecualian. ‘Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam manakah ia. Ianya ialah malam yang Nabi s.a.w. perintahkan kami bangun padanya. Ianya ialah malam pagi 27. Tandanya ialah matahari terbit pada paginya putih tanpa cahaya silau.

16-
Apabila sampai dua atau tiga hari sebelum berakhirnya Ramadhan, bersedialah untuk mengeluarkan zakat fitrah seperti berikut:
- Hukumnya fardhu:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
[35]
Maksudnya: Daripada Ibnu Umar r.a. katanya Rasulullah s.a.w. telah memfardhukan zakat fitrah segantang kurma atau segantang gandum ke atas hamba, merdeka, lelaki, wanita, kecil dan dewasa dari kalangan orang-orang Islam. Baginda juga memerintahkan supaya zakat ini dikeluarkan sebelum orang ramai keluar untuk solat.

- Bentuk zakat fitrah:
عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ الْعَامِرِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ كُنَّا نُخْرِجُ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ طَعَامٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ أَقِطٍ أَوْ صَاعًا مِنْ زَبِيبٍ
[36]
Maksudnya: Daripada ‘Iyad bin Abdullah bin Sa‘d bin Abi Sarh al-‘Amiri bahawa dia mendengar Abu Sa‘id al-Khudri r.a. berkata (Dahulu kami sering mengeluarkan zakat fitrah sebanyak segantang makanan atau segantang gandum atau segantang kurma atau segantang susu ‘kering’ atau segantang kismis.)

- Masa keluarkan zakat fitrah:
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
[37]
Maksudnya: Daripada Ibnu Umar r.a. katanya Rasulullah s.a.w. telah memfardhukan zakat fitrah segantang kurma atau segantang gandum ke atas hamba, merdeka, lelaki, wanita, kecil dan dewasa dari kalangan orang-orang Islam. Baginda juga memerintahkan supaya zakat ini dikeluarkan sebelum orang ramai keluar untuk solat.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
[38]
Maksudnya: Daripada Ibnu ‘Abbas katanya Rasulullah telah memfardhukan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa daripada kata-kata kosong dan kata-kata lucah, di samping menjadi makanan kepada orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum solat, ia adalah zakat yang diterima. Siapa yang menunaikannya selepas solat, ia adalah sedekah seperti mana-mana sedekah.



- Kepada siapa diberikan zakat fitrah:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
[39]
Maksudnya: Daripada Ibnu ‘Abbas katanya Rasulullah telah memfardhukan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa daripada kata-kata kosong dan kata-kata lucah, di samping menjadi makanan kepada orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum solat, ia adalah zakat yang diterima. Siapa yang menunaikannya selepas solat, ia adalah sedekah seperti mana-mana sedekah.

Demikianlah sedikit-sebanyak berkenaan tuntutan sunnah Rasulullah s.a.w. di dalam bulan Ramadhan. Semoga dapatlah kita berusaha dengan gigih agar menepati tunjuk ajar Rasulullah s.a.w. junjungan kita dalam mengharungi hari-hari dalam bulan-bulan ini. Kita juga memohon agar Allah Ta’ala memberkati niat dan amalan kita di muka bumi ini dan mengizinkan kita memasuki syurgaNya di akhirat nanti. Amin ya Rabb al-alamin…

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم. وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين.
[1] HR al-Tirmizi, Kitab al-Da‘awat (Doa-doa), Bab Ma Yaqul ‘Ind Ru’yat al-Hilal (Apa yang disebut semasa melihat anak bulan), No. 3373. Dihukum sahih oleh al-Albani dalam Sahih Sunan al-Tirmizi No. 3451.
[2] HR al-Bukhari, Kitab Solat al-Tarawih (Solat Tarawih), Bab Fadl Man Qam Ramadhan (Kelebihan orang yang bangun Ramadhan), No. 1870. Juga Muslim, Kitab Solat al-Musafirin Wa Qasriha (Solat pengembara-pengembara dan memendekkannya), Bab al-Targhib Fi Qiyam Ramadhan Wa Huwa al-Tarawih (Galakan bangun Ramadhan iaitu Tarawih), No. 1266.
[3] HR al-Bukhari, Kitab Solat al-Tarawih (Solat Tarawih), Bab Fadl Man Qam Ramadhan (Kelebihan orang yang bangun Ramadhan), No. 1874. Juga Muslim, Kitab Solat al-Musafirin Wa Qasriha (Solat pengembara-pengembara dan memendekkannya), Bab Solat al-Lail Wa ‘Adad Raka‘at al-Nabi s.a.w. Fi al-Lail Wa Anna al-Witr Rak‘at Wa Anna al-Rak‘at Solah Sahihah (Solat malam dan bilangan rakaat Nabi s.a.w. di waktu malam, dan sesungguhnya witir itu satu rakaat, serta sesungguhnya satu rakaat itu solat yang sah). No. 1219.
[4] HR Malik, Kitab alNida’ li alSolah, Bab Ma Ja’a fi Qiyam Ramadhan, No. 232.
[5] Sila lihat Solat al-Tarawih oleh Muhammad Nasiruddin al-Albani, al-Maktab al-Islami, Beirut, Cetakan ke2 1405h-1985, hlm. 55 dan 65.
[6] HR al-Nasa’i, Kitab Qiyam al-Lail Wa Tatawwu‘ al-Nahar (Bangun malam dan solat sunat siang), Bab Qiyam Shar Ramadhan (Bangun bulan Ramadhan), No. 1587. dihukum sahih oleh al-Albani dalam Sahih Sunan al-Nasa‘i No. 1604.
[7] HR al-Nasa’i, Kitab al-Siyam (Puasa), Bab Zikr Ikhtilaf al-Naqilin Li Khabar Hafsah Fi Zalik (al-Niyyah Fi al-Siyam) (Penerangan tentang perbezaan para periwayat hadith Hafsah berkenaan perkara ini (niat dalam puasa)), No. 2292. Dihukum sahih oleh al-Albani dalam Sahih Sunan al-Nasa’i No. 2330.
[8] Sila lihat al-Nawawi, Yahya bin Syaraf, Raudah al-Talibin, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1421H-2000, hlm. 332.
[9] Sila lihat Mohd. Asri Zainul Abidin, Bid’ah Hasanah Istilah Yang Disalah Fahami, Johor Bahru: Perniagaan Jahabersa, 2005, hlm. 44. (al-Suyuti, al-Amr bi al-Ittiba‘ Wa al-Nahy ‘an al-Ibtida‘, hlm. 100.)
[10] HR al-Bukhari, Kitab al-Saum, Bab Barakah al-Sahur Min Ghair Ijab, No. 1789. Juga Muslim, Kitab al-Siyam (Puasa), Bab Fadl al-Sahur WaTa’kid Istihbabih Wa Istihbab Ta’khirih Wa Ta‘jil al-Fitr (Kelebihan bersahur dan penekanan sunatnya serta sunatnya dilewatkan sahur dan dicepatkan berbuka), No.1835.
[11] HR Ahmad, Baqi Musnad al-Mukthirin, Musnad Abi Sa‘id al-Khudri, No. 10664. Dihukum Sahih oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami‘, No. 3683.
[12] HR Abu Daud, Kitab al-Saum, Bab Fi al-Rajul Yasma‘ al-Nida’ Wa al-Ina’ Fi Yadih, No. 2003. Dihukum Sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, No. 1394.
[13] HR al-Tabarani, dihukum Sahih oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami‘, No. 3038.
[14] Sila lihat al-‘Asqalani, Ali bin Hajar, Fath al-Bari, jil. 4, hlm. 199.
[15] HR al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Saum Ramadhan Ihtisaban Min al-Iman, No. 37. Juga Muslim, Kitab Solat al-Musafirin Wa Qasriha (Solat pengembara-pengembara dan memendekkannya), Bab al-Targhib Fi Qiyam Ramadhan Wa Huwa al-Tarawih (Galakan bangun Ramadhan iaitu Tarawih), No.1268.
[16] HR al-Bukhari, Kitab al-Saum, Bab Man Lam Yada‘ Qaul al-Zur Wa al-‘Amal Bih Fi al-Saum, No.1770.
[17] HR Muslim, Kitab al-Siyam, Bab Akl al-Nasi Wa Shurbih Wa Jima‘ih La Yufattir, No. 1952. Juga al-Bukhari, Kitab al-Saum, Bab al-Saim Iza Akal Aw Syarib Nasiyan, No. 1797.
[18] HR al-Bukhari, Kitab Tafsir al-Quran, Bab Qaulih Ta‘ala ‘Ayyaman Ma‘dudat...’, No. 4145.
[19] HR Abu Daud, Kitab al-Saum, Bab Man Qal Hiya Muthbatah Li al-Syaikh Wa al-Hubla, No. 1974. Dihukum
[20] HR al-Tirmizi, Kitab al-Saum, Bab Ma Ja’ Fi Fadl Shahr Ramadhan, No. 618. Dihukum Sahih oleh al-Albani dalam Sahih Sunan al-Tirmizi, No. 682.
[21] HR al-Tirmizi, Kitab al-Saum, Bab Ma Ja’ Fi Fadl Man Fattar Saima, No. 735. Dihukum sahih oleh al-Albani dalam Sahih Sunan al-Tirmizi, No. 807.
[22] HR Muslim, Kitab al-Haj, Bab Fadl al-‘Umrah Fi Ramadhan, No. 2201.
[23] HR al-Tirmizi, Kitab al-Saum, Bab Ma Ja’ Fi Fadl Shahr Ramadhan, No. 618. Dihukum Sahih oleh al-Albani dalam Sahih Sunan al-Tirmizi, No. 682.
[24] HR al-‘Uqaili, al-Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir, dihukum sahih oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, No. 1797.
[25] HR al-Bukhari, Kitab al-Saum, Bab Ta‘jil al-Iftar, No. 1821. Juga Muslim, No. Kitab al-Siyam (Puasa), Bab Fadl al-Sahur WaTa’kid Istihbabih Wa Istihbab Ta’khirih Wa Ta‘jil al-Fitr (Kelebihan bersahur dan penekanan sunatnya serta sunatnya dilewatkan sahur dan dicepatkan berbuka), No. 1838.
[26] HR al-Bukhari, Kitab al-Saum, Bab Mata Yahill Fitr al-Saim, No. 1818. Juga Muslim, Kitab al-Siyam, Bab Bayan Waqt Inqida’ al-Saum Wa Khuruj al-Nahar, No. 1841.
[27] HR Abu Daud, Kitab al-Saum, Bab Ma Yuftir ‘Alaih, No. 2009. Dihukum sahih oleh al-Albani dalam Sahih Abi Daud, No. 2040.
[28] HR Abu Daud, Kitab al-Saum, Bab al-Qaul ‘Ind al-Iftar, No. 2010. Dihukum Hasan oleh al-Albani dalam Sahih al-Jami‘, No. 4678.
[29] HR al-Bukhari, Kitab Solat al-Tarawih, Bab al-‘Amal Fi al-‘Ashr al-Awakhir Min Ramadhan, No. 1884.
[30] HR al-Isma‘ili (al-Mu‘jam) dan al-Baihaqi (al-Sunan) seperti dinyatakan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, No. 2786. Dihukum Sahih oleh al-Albani.
[31] HR al-Bukhari, Kitab al-Azan, Bab Man Jalas Fi al-Masjid Yantazir al-Solat Wa Fadl al-Masajid, No. 619. Juga Muslim, Kitab al-Masajid Wa Mawadi‘ al-Solat, Bab Fadl Solat al-Jama‘ah Wa Intizar al-Solat, No. 1060.
[32] HR al-Bukhari, Kitab al-Iman, Bab Qiyam Lailah al-Qadr Min al-Iman, No. 34.
[33] HR Ibnu Majah. Kitab al-Du‘a, Bab al-Du‘a Bi al-‘Afw Wa al-‘Afiyah, No. 3840. Dihukum Sahih oleh al-Albani dalam Sahih Ibnu Majah, No. 3119.
[34] HR Muslim, Kitab Solat al-Musafirin Wa Qasriha, Bab al-Targhib Fi Qiyam Ramadhan Wa Huwa al-Tarawih, No. 1272.
[35] HR al-Bukhari, Kitab al-Zakat, Bab Fard Sadaqah al-Fitr, No. 1407.
[36] HR al-Bukhari, Kitab al-Zakat, Bab Sadaqah al-Fitr Sa‘ Min Ta‘am, No. 1410.
[37] HR al-Bukhari, Kitab al-Zakat, Bab Fard Sadaqah al-Fitr, No. 1407.
[38] HR Abu Daud, Kitab al-Zakat, Bab Zakat al-Fitr, No. 1371. Juga Ibnu Majah, Kitab al-Zakat, Bab Sadaqah al-Fitr, No. 1817. Dihukum sahih oleh al-Albani dalam Sahih Abi Daud No. 1427 dan Sahih Ibnu Majah No. 1492.
[39] HR Abu Daud, Kitab al-Zakat, Bab Zakat al-Fitr, No. 1371. Juga Ibnu Majah, Kitab al-Zakat, Bab Sadaqah al-Fitr, No. 1817. Dihukum sahih oleh al-Albani dalam Sahih Abi Daud No. 1427 dan Sahih Ibnu Majah No. 1492.